Tingkatkan Kepedulian Mental, Rumah Sakit Gelar IHT Pencegahan Bunuh Diri: Masalah Kesehatan Masyarakat, Bukan Hanya Ranah Klinis

By administrator 10 Jul 2026, 09:29:51 WIB Kegiatan
Tingkatkan Kepedulian Mental, Rumah Sakit Gelar IHT Pencegahan Bunuh Diri: Masalah Kesehatan Masyarakat, Bukan Hanya Ranah Klinis

PURWOREJO – Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan serta kepekaan seluruh staf terhadap isu kesehatan mental yang krusial, RSUD R.A.A. Tjokronegoro Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan In-House Training (IHT) dengan tema "Deteksi Dini dan Pencegahan Perilaku Bunuh Diri di Lingkungan Rumah Sakit". Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh jajaran manajemen, tenaga medis, serta karyawan non-medis rumah sakit.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Direktur RSUD R.A.A. Tjokronegoro, dr. Nunik Sulistyaningsih, M.Sc.. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa rumah sakit harus menjadi lingkungan yang aman dan responsif, tidak hanya bagi pasien yang datang berobat, tetapi juga bagi sesama rekan kerja yang saling mendukung setiap hari. Beliau berharap IHT ini dapat membekali seluruh staf agar memiliki kesadaran yang tinggi (awareness) terhadap keselamatan jiwa dan kesehatan mental orang-orang di sekitarnya.

Hadir sebagai narasumber utama dalam pelatihan ini, dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) RSUD R.A.A. Tjokronegoro, dr. Erih Williasari, Sp.KJ. Dalam pemaparannya, dr. Erih menegaskan sebuah poin penting yang membuka prinsip dasar pencegahan.

"Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat (public health), bukan hanya ranah klinis semata. Artinya, tanggung jawab pencegahan ini berada di tangan kita semua sebagai sesama manusia, bukan hanya tugas dokter spesialis jiwa atau psikolog saja," jelas dr. Erih.

Di hadapan para peserta, dr. Erih membedakan dengan jelas antara faktor risiko jangka panjang dan tanda peringatan (warning signs) akut yang membutuhkan respons cepat. Beliau membagi tanda peringatan tersebut ke dalam tiga kategori utama yang harus diwaspadai:

  1. Verbal (Ucapan): Seperti pernyataan ingin mati, merasa putus asa, terjebak, atau merasa dirinya menjadi beban bagi orang lain (contoh: "Nanti kalau saya sudah tidak ada, tidak akan menyusahkan orang lain lagi").

  2. Perilaku (Tindakan): Mencari akses sarana mematikan, menarik diri dari lingkungan keluarga dan komunitas, hingga membagikan barang-barang berharga kesayangan kepada orang terdekat.

  3. Perubahan Kondisi: Perubahan suasana hati (mood) yang ekstrem, kecemasan parah, peningkatan penggunaan zat tertentu, hingga ketenangan mendadak yang drastis setelah sebelumnya mengalami periode depresi berat.

Lebih lanjut, dr. Erih juga memaparkan spektrum perilaku bunuh diri yang berkembang secara progresif, mulai dari pemikiran pasif untuk mati, penyusunan rencana spesifik, hingga terjadinya percobaan nyata. Beliau turut memberikan wawasan global mengenai inovasi di luar negeri, seperti Korea Selatan yang memanfaatkan sistem kamera AI di jembatan publik dan Jepang yang memasang lampu LED biru (blue light) di peron stasiun untuk menurunkan angka impulsivitas bunuh diri secara efektif hingga 99%.

Mengingat infrastruktur fisik berbasis teknologi tersebut belum tersedia secara luas di Indonesia, dr. Erih menekankan bahwa kepekaan interpersonal karyawan rumah sakit adalah garda terdepan yang sesungguhnya. Beliau mengajak seluruh peserta untuk mempraktikkan Pertolongan Pertama Kesehatan Mental (Mental Health First Aid) melalui prinsip 3L, yaitu:

  • Look (Lihat/Amati): Jeli melihat perubahan perilaku, ucapan tidak biasa, atau kondisi emosional rekan atau pasien di sekitar.

  • Listen (Dengar): Menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka secara aktif dengan empati dan tanpa menghakimi.

  • Link (Hubungkan): Mengarahkan dan mendampingi mereka yang membutuhkan untuk mendapatkan bantuan profesional ke poliklinik spesifik seperti psikolog atau psikiater.

Acara IHT ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab yang disambut antusias oleh seluruh staf. Melalui pelatihan ini, RSUD R.A.A. Tjokronegoro Kabupaten Purworejo berkomitmen untuk terus meningkatkan kepedulian sosial dan membangun sistem dukungan kesehatan mental yang kuat di lingkungan kerja demi keselamatan bersama.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Instagram

Twitter


Facebook

Counter Pengunjung