- INFORMASI LAYANAN RSUD R.A.A. TJOKRONEGORO DALAM BULAN RAMADHAN 1446 H
- APEL PAGI PURNA TUGAS ASN RSUD R.A.A. TJOKRONEGORO
- Apel Guyup Rukun ASN Peduli dalam Rangka Hari Jadi Ke-194 Kabupaten Purworejo
- RSUD R.A.A. Tjokronegoro Perkuat Kerja Sama Tim melalui Capacity Building di Batu, Malang
- RSUD R.A.A. Tjokronegoro Berpartisipasi dalam Purworejo Expo 2025
- RSUD R.A.A. Tjokronegoro Lakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk untuk Cegah DBD
- TASYAKURAN HARI GIZI NASIONAL KE-65
- Sosialisasi Perpajakan, PPh 21 dan Penerapannya bagi Pegawai
- KAMPANYE MAKAN BUAH
- DIREKTUR MENYAPA SPECIAL HARI IBU
DIREKTUR RSUD R.A.A. TJOKRONEGORO PURWOREJO BERKONTRIBUSI DALAM PEMBUATAN BUKU PANDEMI COVID-19 TRAGEDI LINGKUNGAN DAN KEMANUSIAAN

dr. Tolkha Amaruddin, Sp.THT-KL., M.Kes berkontribusi dalam pembuatan buku PANDEMI COVID-19 TRAGEDI LINGKUNGAN DAN KEMANUSIAAN. Ia menyampaikan materi Burnout yang diwawancarai oleh Syaefudin Simon di RSUD R.A.A. Tjokronegoro Purworejo. Ia memaparkan bahwa fenomena kompleks yang dihadapi tenaga medis menimbulkan apa yang dinamakan burnout. Burnout adalah kelelahan emosional, fisik, dan mental karena stres berlebihan dan berkepanjangan.
Ia menerangkan bahwa
burnout tingkat sedang paling banyak dialami petugas laboratium, perawat,
apoteker, bidan, dokter gigi, dan dokter spesialis. Sedangkan burnout tingkat
berat dialami dokter, karena dokter terikat Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI) yang ketat. Menurut KODEKI: kewajiban seorang dokter adalah menangani
orang yang membutuhkan pertolongan terkait masalah kesehatannya. Seorang dokter
wajib memberikan pertolongan tanpa memandang status pasien.
dr. Tolkha memberikan penjelasan dokter adalah pejuang terdepan dalam menghadapi serbuan virus. Dampaknya banyak dokter yang terpapar Covid-19 dan akhirnya meninggal dunia. Per-Maret 2022 misalnya, IDI mencatat dokter yang meninggal dunia akibat Covid-19, 752 orang. Menyedihkan sekali! Sampai-sampai prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, Guru Bangsa dan sesepuh Muhammadiyah merasa terguncang menyaksikan banyaknya dokter yang tewas akibat “kekejaman” Covid-19 itu.
Penulis:
PKRS
Fotografer
: PKRS